Refleksi
Kuliah (11 April
2017)
Oleh : Muhamamd
Mufti Hanafi
Mewujudkan Kebahagiaan dengan Mengetahui Hakikatnya
Bapak Marsigit
memulai perkuliahan dengan berdoa dan mengajak mahasiswa untuk berfikir
reflektif dengan mengajukan pertanyaan yang ditulis melalui kertas kemudian
beliau menjadi cermin reflektif.
Dimulai dari pertanyaan Reinkarnasi
Dalam memandang kehidupan dan cara berfikir orang Barat dengan
orang Timur berbeda, dalam perspektifnya, orang Barat dahulu dengan sekarang
pun berbeda. Orang Barat dahulu dalam
berfikir berupa lingkaran maju ke depan melancip dengan tiga unsur yakni
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Orang Barat sekarang ketiga unsur
tersebut disatukan dan menjadi lingkaran panah ke depan dan menuju kepada titik
Hedonis. Adapun dunia Timur tetap mempertahankan ketiga unsur yang melingkar
tersebut. Semisal dalam unsur tersebut mengandung keterikatan pengulangan, pagi
ketemu pagi, siang ketemu siang, malam ketemu malam. Kemudian Bapak Marsigit mencontohkan
awal mula kejadian Bumi dalam ilmu geografi yang pada akhirnya bumi berputar
dan mempunyai daya lekat secara terus menerus. Dan hubungannya dengan
reinkarnasi beliau mengutip perkataan orang India bahwa sebenar-benar
reinkarnasi adalah tindakan kita sendiri. Ketika seorang bertindak, berbuat
apapun sejatinya dia tengah bereinkarnasi. Jika perefleksi simpulkan seorang
akan menerima akibat dari perbuatannya.
Kebetulan
Menjadi permasalahan ketika seorang berhenti pada titik penelitian
dan ia merasa puas dalam hal itu, misalnya seorang berhenti pada teori kejadian
Bumi namun tidak menyandarkan pada titik keimanan maka seorang bisa terjerumus
pada tidak percaya tuhan. Karena penelitian tersebut memberikan dampak tidak
akan berhenti pertanyaan yang tak berujung. Seperti mengapa bumi berputar,
mengapa saling melekat, sampai pada mengapa ada Tuhan. Maka yang harus
ditegaskan adalah teori akal saja tidaklah cukup tanpa bimbingan spiritual
keimanan.
Kebahagian
Perspektif kebahagiaan berbeda-beda, orang Barat memandang
kebahagiaan tatkala berhasil menemukan, maka itulah ekstasi kebahagiaan
tertinggi baginya, sedangkan orang Timur dikatakan kebahagiaan tatkala bisa
memberi, agar bisa memberi mempunyai persyaratan. Diantaranya adalah kuasa.
Maka perefleksi mendapatkan hikmah motivasi bagi siapapun orang timur agar
dapat mengejar kebahagiaan tersebut, termasuk bagaimana mewujudkan persyaratan
tersebut.
Teori Kehendak Bebas
Pendapat kehendak bebas berawal dari keterkungkungan. Filsafat
merupakan pusat, jika filsafat manusia maka pusatnya adalah manusia, jika
pusatnya materialisme maka material adalah pusatnya. Dan sifat pusat adalah
menyingkirkan hal yang lain. Jika pusatnya material maka hati-hati karena dapat
menyingkirkan hal lain termasuk perihal ketuhanan. Perefleksi mengambil hikmah
bahwa hendaknya seorang tidak menggantungkan dirinya pada material semata dan
senantiasa mentaati aturan tertinggi yang jika dilanggar mengakibatkan
kerusakan sistem.
Terlalu Suka
Hakikat dari terlalu adalah menyederhanakan, hanya fokus pada satu
titik, bersifat intensi dan meremahkan hal lain, semisal seorang terlalu suka
pada Soto, maka dia sedang menyederhanakan kesukaannya hanya pada Soto, padahal
ada Kambing Guling dan Tongseng Kambing dan makna meremehkan adalah ia sedang
meremehkan makanan yang lain.
Akhir dari
refleksi pada kesempatan ini perefleksi tengah memikirkan bahwa seorang dapat
mewujudkan kebahagiaannya manakala ia mengetahui kebahagiaan itu sendiri, baik
definisi, latar belakang, unsur-unsur dan hal-hal yang penegasi kebahagiaan.
Dan tidaklah hal tersebut diraih manakala seorang tidak mau mempelajarinya. Hal
khusus yang perefleksi garis bawahi, jika dalam mencari kebahagiaan dunia
seorang rela menghabiskan umurnya namun terkadang tak juga mendapatkan, maka
untuk kebahagiaan akhirat tidak ada pilihan lain selain seorang harus
memperjuangkannya dengan giat belajar dan mengamalkan syariat yang telah
dituntunkan.
0 komentar:
Posting Komentar