Selasa, 20 Juni 2017

Mengubah Musibah menjadi Barokah

REFLEKSI 1 (kuliah 14 Februari 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi

Mengubah Musibah menjadi Barokah

Pada perkuliahan awal ini yang Bapak Marsigit sampaikan adalah beliau memulai perkuliahan dengan menggambarkan pentingnya pendidikan karakter dalam keluarga, sebagaimana keluarga bapak Marsigit mendidik keluarganya dengan menekankan agar berpegang teguh pada agama, bersabar, tekun, bersungguh-sungguh dan istiqomah. Meskipun beliau mengatakan bahwa keluarganya belum faham syariat tapi penekanan pada akhlak yang bagus tersebut sangat penting dan berguna baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di masyarakat.

Yang kedua adalah pentingnya peran seorang istri bagi seorang suami, dalam rangka mendukung, mendorong dalam menjalankan kehidupan. Menjadi istri yang setia dalam rangka membangun keluarga yang kokoh tidak harus dengan tangan besi, justru hendaknya menjadi penyejuk, seperti mendoakan bagi keluarga, penyemangat dalam ibadah dan dengan akhlak yang bagus. Hal ini secara tidak langsung akan menjadi pelajaran bagi anak-anak. Kesabaran dan keikhlasan orang tua akan menurun kepada anak-anaknya, hal seperti ini juga termasuk memelihara keluarga. Begitulah seharusnya seorang muslim, memberi perhatian lebih kepada pendidikan karakter keluarga. Keluarga bisa menjadi penghangat dan penyemangat, seperti pak marsigit mengisahkan perjalanannya S2 ketika disana yang menjadi harapan adalah agar bisa pulang, ini bisa jadi karena doa istri.

Kemudian bapak Marsigit menjelaskan bahwa ilmu filsafat dalam melihat tidak hanya dipandang dari satu sisi, sebagaimana dunia ini berstruktur, seperti didengar itu juga bermacam-macam. Dalam masalah pikiran seorang bisa memikirkan orang lain, misal mengungkapkan apa yang menjadi pikiran yang sudah dipelajari. Contoh nyata yang diajarkan pak Marsigit adalah menuliskan kedalam blognya. Namun pada urusan hati dikembalikan pada masing-masing terserah pembaca apakah menerima atau menolaknya. Dalam tataran contoh merefleksikan spiritual hingga pada batas tertentu maka biarkan seorang memilih kebaikannya masing-masing.

Karena dengan kita menuangkan pikiran akan memberikan arti pentingnya mengubah persepsi yang tadinya musibah menjadi barokah. Pentingnya menyucikan diri baik dalam hati maupun suci fisik. Misal seorang yang hendak sholat, maka ia menyucikan fisiknya dengan berwudhu, atau ketika seorang berdosa kemudian seorang melaksanakan sholat taubat atau sholat sunnah wudhu. Beliau menceritakan pengalaman ketika Umroh yang sangat banyak keanekaragaman hal yang sebenarnya bisa di lakukan masing-masing namun di Indonesia banyak di pertentangkan, semisal menggunakan celana diatas mata kaki, pakai jubah atau perempuan di Saudi juga banak yang menggunakan penutup muka(niqab) bagi wanita.

Dalam menghadapi suatu masalah seorang harus yakin bahwa Allah selalu telah menyiapkan solusi pada kondisi apapun, seperti seorang yang harus mengambil kuliah ulang, terkadang seorang merasa seperti langit runtuh, padahal masih ada solusi. Contoh lain, karena bapak Marsigit netral dalam menyikapi perbedaan di kampung maka beliau justru bisa masuk kemanapun dan tidak terikat macam-macam tradisi di kampung, atau ketika beliau mengadakan acara, yang biasanya terkotak-kotak akhirnya beliau justru bisa mengundang dan mengumpulkan dari semua lapisan masyarakat. Karena beliau beranggapan seorang beramal baik tidak perlu melihat atau bertujuan anggapan baik orang lain atau agar orang lain bersikap yang kita inginkan. Maka ini menjadi solusi.

Kemudian bapak Marsigit menekankan pentingnya dzikir dan doa.
Maghrib sampai isya habis shoat jamaah selalu ngaji, keluarga menjadi barokah. Penekanan pentingnya beribadah sehingga tercipta nuansa yang sangat bermanfaat. Tips beliau dalam menasihati ketika seorang diajak terlibat langsung akan sangat berbeda dengan yang hanya teori ceramah semata. Karena seorang mencari barokah harus membutuhkan proses dan persiapan, begitu pula seorang yang ingin mencapai kesuksesan harus mengubah perilaku kepada ikhtiar yang maksimal lagi.

Allah itu sangat mudah memberi solusi pada hambanya, secara psikologi pikiran manusia dalam masyarakat spontan alamiah menjadi barokah. Kemarin Pak Marsigit pergi ke tanah suci beliau menggambarkan seperti bayi yang baru lahir. Dalam ranah status sosial pun akan berbeda tergantung ruang dan waktu. Misal di kampus seorang sebagai dekan, sebagai rektor atau seorang profesor ketika di masyarakat kampung panggilannya tetap ‘pak’ buakan lagi pak dekan, bahkan yang tertinggi derajatnya adalah pak Kiyahi(yang dihormati). Bermula dari persepsi maka seorang harus tahu pentingnya mengubah adat yang kurang bermanfaat menjadi adat yang bagus, sehingga meski adat akan bisa menjadi barokah, mencari barokah dengan barokah, mencari modal dengan modal.

Pak Marsigit membagi pengalaman yang sangat bermanfaat khususnya yang belum pernah pergi ke tanah suci, beliau menceritakan kronologi detail mulai dari berangkat sampai selesai rangkaian ibadah umroh. Mulai dari Madinah, masjid nabawi, ke Makah, mencium hajar aswad, thowaf, sholat di belakang maqom ibrahim, sai dan di sana apa yang diinginkan bisa saja terjadi, seperti yang ingin mati di kakbah mati betul terkena hukuman pemerintah Saudi. Bagi perefleksi ini adalah gaya mengajar yang bagus, yakni memberikan gambaran nyata bagi siswa apa yang menjadi pengalaman. Terlebih lagi di Roudhoh, ka’bah seperti pak marsigit senantiasa mempertahankan seperti melihat langsung. Sayang kalau di lupakan, sehingga efeknya kalau sebelumnya tidak kini beliau merutinkan sholat wajib berjamaah.


Yang tadinya kita berfikir kuliah ini musibah kita menjadi berfikir bahwa kuliah ini barokah.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika

Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika: Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika 1.       Ontologi Matematika...