REFLEKSI 1 (kuliah 14 Februari 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi
Mengubah Musibah menjadi Barokah
Pada perkuliahan awal ini yang Bapak Marsigit sampaikan adalah
beliau memulai perkuliahan dengan menggambarkan pentingnya pendidikan karakter
dalam keluarga, sebagaimana keluarga bapak Marsigit mendidik keluarganya
dengan menekankan agar berpegang teguh pada agama, bersabar, tekun,
bersungguh-sungguh dan istiqomah. Meskipun beliau mengatakan bahwa keluarganya
belum faham syariat tapi penekanan pada akhlak yang bagus tersebut sangat
penting dan berguna baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di
masyarakat.
Yang kedua adalah pentingnya peran seorang istri bagi seorang
suami, dalam rangka mendukung, mendorong dalam menjalankan kehidupan. Menjadi
istri yang setia dalam rangka membangun keluarga yang kokoh tidak harus dengan
tangan besi, justru hendaknya menjadi penyejuk, seperti mendoakan bagi keluarga,
penyemangat dalam ibadah dan dengan akhlak yang bagus. Hal ini secara tidak
langsung akan menjadi pelajaran bagi anak-anak. Kesabaran dan keikhlasan orang tua
akan menurun kepada anak-anaknya, hal seperti ini juga termasuk memelihara
keluarga. Begitulah seharusnya seorang muslim, memberi perhatian lebih kepada
pendidikan karakter keluarga. Keluarga bisa menjadi penghangat dan penyemangat, seperti pak
marsigit mengisahkan perjalanannya S2 ketika disana yang menjadi harapan adalah agar
bisa pulang, ini bisa jadi karena doa istri.
Kemudian bapak Marsigit menjelaskan bahwa ilmu filsafat dalam
melihat tidak hanya dipandang dari satu sisi, sebagaimana dunia ini
berstruktur, seperti didengar itu juga bermacam-macam. Dalam masalah pikiran
seorang bisa memikirkan orang lain, misal mengungkapkan apa yang menjadi
pikiran yang sudah dipelajari. Contoh nyata yang diajarkan pak Marsigit adalah
menuliskan kedalam blognya. Namun pada urusan hati dikembalikan pada
masing-masing terserah pembaca apakah menerima atau menolaknya. Dalam tataran
contoh merefleksikan spiritual hingga pada batas tertentu maka biarkan seorang
memilih kebaikannya masing-masing.
Karena dengan kita menuangkan pikiran akan memberikan arti pentingnya
mengubah persepsi yang tadinya musibah menjadi barokah. Pentingnya menyucikan
diri baik dalam hati maupun suci fisik. Misal seorang yang hendak sholat, maka
ia menyucikan fisiknya dengan berwudhu, atau ketika seorang berdosa kemudian
seorang melaksanakan sholat taubat atau sholat sunnah wudhu. Beliau menceritakan
pengalaman ketika Umroh yang sangat banyak keanekaragaman hal yang sebenarnya
bisa di lakukan masing-masing namun di Indonesia banyak di pertentangkan,
semisal menggunakan celana diatas mata kaki, pakai jubah atau perempuan di
Saudi juga banak yang menggunakan penutup muka(niqab) bagi wanita.
Dalam menghadapi suatu masalah seorang harus yakin bahwa Allah
selalu telah menyiapkan solusi pada kondisi apapun, seperti seorang yang harus mengambil
kuliah ulang, terkadang seorang merasa seperti langit runtuh, padahal masih ada
solusi. Contoh lain, karena bapak Marsigit netral dalam menyikapi perbedaan di kampung maka beliau justru bisa masuk
kemanapun dan tidak terikat macam-macam tradisi di kampung, atau ketika beliau
mengadakan acara, yang biasanya terkotak-kotak akhirnya beliau justru bisa
mengundang dan mengumpulkan dari semua lapisan masyarakat. Karena beliau
beranggapan seorang beramal baik tidak perlu melihat atau bertujuan anggapan
baik orang lain atau agar orang lain bersikap yang kita inginkan. Maka ini
menjadi solusi.
Kemudian bapak Marsigit menekankan pentingnya dzikir dan doa.
Maghrib sampai isya habis shoat jamaah selalu ngaji, keluarga
menjadi barokah. Penekanan pentingnya beribadah sehingga tercipta nuansa yang
sangat bermanfaat. Tips beliau dalam menasihati ketika seorang diajak terlibat
langsung akan sangat berbeda dengan yang hanya teori ceramah semata. Karena seorang
mencari barokah harus membutuhkan proses dan persiapan, begitu pula seorang yang
ingin mencapai kesuksesan harus mengubah perilaku kepada ikhtiar yang maksimal
lagi.
Allah itu sangat mudah memberi solusi pada hambanya, secara
psikologi pikiran manusia dalam masyarakat spontan alamiah menjadi
barokah. Kemarin Pak Marsigit pergi ke tanah suci
beliau menggambarkan seperti bayi yang baru lahir. Dalam ranah status sosial
pun akan berbeda tergantung ruang dan waktu. Misal di kampus seorang sebagai
dekan, sebagai rektor atau seorang profesor ketika di masyarakat kampung
panggilannya tetap ‘pak’ buakan lagi pak dekan, bahkan yang tertinggi
derajatnya adalah pak Kiyahi(yang dihormati). Bermula dari persepsi maka
seorang harus tahu pentingnya mengubah adat yang kurang bermanfaat menjadi adat
yang bagus, sehingga meski adat akan bisa menjadi barokah, mencari barokah
dengan barokah, mencari modal dengan modal.
Pak Marsigit membagi pengalaman yang sangat bermanfaat khususnya
yang belum pernah pergi ke tanah suci, beliau menceritakan kronologi detail
mulai dari berangkat sampai selesai rangkaian ibadah umroh. Mulai dari Madinah,
masjid nabawi, ke Makah, mencium hajar aswad, thowaf, sholat di belakang maqom
ibrahim, sai dan di sana apa yang diinginkan bisa saja terjadi, seperti yang
ingin mati di kakbah mati betul terkena hukuman pemerintah Saudi. Bagi
perefleksi ini adalah gaya mengajar yang bagus, yakni memberikan gambaran nyata
bagi siswa apa yang menjadi pengalaman. Terlebih lagi di Roudhoh, ka’bah seperti pak marsigit senantiasa
mempertahankan seperti melihat langsung. Sayang kalau di lupakan, sehingga
efeknya kalau sebelumnya tidak kini beliau merutinkan sholat wajib berjamaah.
Yang tadinya kita berfikir kuliah ini musibah kita menjadi berfikir
bahwa kuliah ini barokah.
0 komentar:
Posting Komentar