Selasa, 20 Juni 2017

Mendewasakan Pikiran

REFLEKSI 2 (kuliah 7 Maret 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi

Mendewasakan Pikiran

Filsafat adalah olah pikir dan berfikir reflektif, mampu melihat pikiran dalam sendiri sehingga seorang mampu menggali potensi pada dirinya sendiri. Sehingga agar berhasil dalam berfilsafat membutuhkan alat untuk merefleksikan yakni orang lain yang berpengalaman, semisal di kelas filsafat, bapak dosen sebagai cermin dalam merefleksikan diri masing-masing. 

Obyek Filsafat; secara ontologis obyek filsafat adalah segala yang difikirkan, baik yang ada dan yang mungkin ada namun jika dikategorikan ada 2 obyek; obyek material yaitu isinya, misal pikiran bapak marsigit dan oobyek formal adalah wadahnya di kelas filsafat.

Pada diri manusia sudah dilengkapi dengan indera yang digunakan sebagai alat, sehingga apa yang di pandang itulah obyek mata, apa yang di dengar itu obyek pendengaran, apa yang di pikirkan maka itu obyek pikiran baik yang ada dan yang mungkin ada, yang mungkin ada dengan cara membandingkan yang sudah ada. Namun terkadang alat indera manusia itu terbatas, sehingga apa yang menjadi obyek pun pasti juga terbatas. Jika telah mengetahui pada pikiran seorang itu terbatas sehingga apa yang difikirkan akan mempunya batas tertentu. Sehingga perlu hati untuk membatasi seorang dalam berfikir, yaitu spiritualitas.

Jika ditanyakan bagaimana cara berfikir filsafat sama saja bagaimana cara berfikir refleksi, agar lebih mudah maka seperti seorang bertanya bagaimana cara mendengar, bagaimana cara memandang. Dari perumpamaan ini maka ada aturan pada masing-masing subjek, misal aturan dalam pandangan mata, ada seorang yang membuka aurat maka wajib untuk memalingkan pandangan, karena jika tetap saja melihat maka menjadi tidak sopan, begitu pula dengan pikiran, apa yang tidak perlu dipikirkan maka tidak perlu dipikirkan. Misal dalam hal ini adalah bagaimana memikirkan cara mencuri, tentang PKI, dan lain-lain. Atau yang terkadang kebablasan adalah memikirkan bagaimana Tuhan maka seorang dalam hal ini perlu tahu bagaimana aturan dalam berfikir, yaitu pada batas tertentu. Dan perlu membentuk hubungan, struktur bangunan pikiran. Sehingga ketika melihat bisa melihat dengan sejelas-jelasnya, dan terlebih bisa dengan mata hati. Begitu pula dengan pikiran. Semisal seorang muslim maka tata cara yang riil dalam hal ini adalah:

1.      Tetapkan niat, jadikan hati sebagai komandan masing-masing. Berdoa lah
2.   Alat membaca adalah membaca, sehingga orang yang kurang membaca akan berbahaya dalam berfilsafat. jika dikatakan bahwa filsafat berbeda-beda maka benar karena orang yang berfilsafat itu merefleksikan diri masing-masing, sehingga ketika seorang memaksa dalam fikiran orang lain, maka sudah masuk pada motif. Sehingga dalam berfilsafat profesional itu adalah belajar, sehingga seorang yang proofesional dalam mempelajari filsafat adalah yang mampu belajar pada para filususf, mempelajari apa yang telah mereka bangun, dan tolok ukur adalah fikiran para filusuf berdasar prinsip-prinsip dasar yang sudah difikirkan sejak dulu dan sudah ditemuka para filusuf, misal sifat dunia ada yang tetap dan ada yang berubah bernteraksi satu dengan yang lain. Misal aku menyebut diriku yang bersifat tetap tidak bisa memastikan 1000 pangkat 1000.

Permasalahan selanjutnya, dalam menasihati seorang ditinjau dari sisi mana seorang menasihati. Seorang menasihati temannya kalau ditinjau dari temannya maka temannya pun juga ingin menasihati. Sehingga yang perlu di perhatikan adalah spiritualitas, kembali pada niat dan doa yangmana Allah Yang Maha Penyayang tidak ada batasnya dengan manusia, mintalah. Memang harus tahu aturan dan batasan dalam berfikir, sehingga ketika terlalu masuk pada ranah yang bukan haknya, Kalau perlu minta maaf atas kelancangan berfikir. Sehingga cara yang bisa digunakan dalam menasihati adalah dengan cara memberi kondisi, memberi suasana. Semisal Bapak Marsigit yang ketika ke Jepang bertemu orang pakistan, yang mengikuti program JICA 3,5 bulan belajar di Jepang. Maka cara menasihati beliau adalah dengan cara Bapak Marsigit sebagai orang tua mengondisikan memberi masukan-masukan. Sehingga tercipta penerimaan dari pihak obyek yang di nasihati. Atau cerita bapak Marsigit ketika S2 beliau memulai mengenalkan diri bahwa beliau seorang Indonesia, tidak minum alkohol dan tidak makan babi. Sehingga orang-orang di sekitar yang notabene adat dan kebiasaan nya minum-minum, makan babi, pesta justru menghormati bahkan dibuatkan tempat sholat khusus. Selain dengan kata-kata dalam memberi suasana maka juga di dukung dengan teladan nayata. Misal contoh bapak marsigit, menghadirkan langsung putra-putranya agar langsung mengikuti acara ketika berangkat atau pulang dari umroh sehingga langsung tahu apa yang dilakukan orang tua, bukan Cuma cerita dan teori.

Fikiran sampai ranah yang tidak bisa digunakan karena terbatas, semisal memikirkan Tuhan maka yang perlu di tanamkan adalah fikiran digunakan untuk menjalankan syariat. Sehingga ketika dihadapkan dengan syariat maka yasudah, apa yang menjadi perintah dan larangan maka seorang tinggal melaksanakan saja. Karena naif mencari tuhan hanya lewat fikiran. Jika memikirkan pada haji saja misalnya, di masjid nabawi siapa yang sholat disana lebih banyak 500x lipat dari masjid masjid di tempat lain. Jika lewat fikiran semata maka tidak akan bisa difikirkan. Tidak sampai.

Pelajaran yang sangat berharga adalah hidup itu harus punya cita-cita, cita-cita yang paling tinggi adalah yang disesuaikan dengan sifat-sifat ajaran Allah subhanahuwata’ala. Jika sudah punya cita-cita seorang harus berikhtiar semaksimal mungkin, tapi tidak boleh dengan cara yang merugikan orang lain. Kalau sudah sampai pada hasil maka tercapai atau idak tercapai itu adalah ketentuan.


Pada prinsipnya manusia harus berada dalam kerangka kekuasaan Allah, jika tidak maka ia akan kebingungan akan rentan, misal rumah kita yang sebenar-benarnya adalah rumah di surga, rumah kita yang saat ini kita hanya main-main, sehingga yang menjadi tujuan adalah bagaimana seorang bisa kembali ke rumah yang sebenar-benarnya. Potensi negatif atau godaan setan akan sangat mudah menghinggapi, semisal kurang sabar, sombong, malas dan hal negatif lainnya. Sehingga perlu di charge lagi spiritualnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika

Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika: Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika 1.       Ontologi Matematika...