REFLEKSI 2 (kuliah
7 Maret 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi
Mendewasakan Pikiran
Filsafat adalah olah pikir dan berfikir reflektif, mampu melihat
pikiran dalam sendiri sehingga seorang mampu menggali potensi pada dirinya
sendiri. Sehingga agar berhasil dalam berfilsafat membutuhkan alat untuk
merefleksikan yakni orang lain yang berpengalaman, semisal di kelas filsafat,
bapak dosen sebagai cermin dalam merefleksikan diri masing-masing.
Obyek Filsafat; secara ontologis obyek filsafat adalah segala yang
difikirkan, baik yang ada dan yang mungkin ada namun jika dikategorikan ada 2
obyek; obyek
material yaitu isinya, misal pikiran bapak marsigit dan oobyek formal adalah wadahnya di kelas filsafat.
Pada diri manusia sudah dilengkapi dengan indera yang digunakan
sebagai alat, sehingga apa yang di pandang itulah obyek mata, apa yang di
dengar itu obyek pendengaran, apa yang di pikirkan maka itu obyek pikiran baik
yang ada dan yang mungkin ada, yang mungkin ada dengan cara membandingkan yang
sudah ada. Namun terkadang alat indera manusia itu terbatas, sehingga apa yang
menjadi obyek pun pasti juga terbatas. Jika telah mengetahui pada pikiran
seorang itu terbatas sehingga apa yang difikirkan akan mempunya batas tertentu.
Sehingga perlu hati untuk membatasi seorang dalam berfikir, yaitu
spiritualitas.
Jika ditanyakan bagaimana cara berfikir filsafat sama saja
bagaimana cara berfikir refleksi, agar lebih mudah maka seperti seorang
bertanya bagaimana cara mendengar, bagaimana cara memandang. Dari perumpamaan
ini maka ada aturan pada masing-masing subjek, misal aturan dalam pandangan
mata, ada seorang yang membuka aurat maka wajib untuk memalingkan pandangan,
karena jika tetap saja melihat maka menjadi tidak sopan, begitu pula dengan
pikiran, apa yang tidak perlu dipikirkan maka tidak perlu dipikirkan. Misal
dalam hal ini adalah bagaimana memikirkan cara mencuri, tentang PKI, dan
lain-lain. Atau yang terkadang kebablasan adalah memikirkan bagaimana Tuhan
maka seorang dalam hal ini perlu tahu bagaimana aturan dalam berfikir, yaitu
pada batas tertentu. Dan perlu membentuk hubungan, struktur bangunan pikiran. Sehingga
ketika melihat bisa melihat dengan sejelas-jelasnya, dan terlebih bisa dengan
mata hati. Begitu pula dengan pikiran. Semisal seorang muslim maka tata cara yang riil dalam hal ini adalah:
1.
Tetapkan
niat, jadikan hati sebagai komandan masing-masing. Berdoa lah
2. Alat
membaca adalah membaca, sehingga orang yang kurang membaca akan berbahaya dalam
berfilsafat. jika dikatakan bahwa filsafat berbeda-beda maka benar karena orang
yang berfilsafat itu merefleksikan diri masing-masing, sehingga ketika seorang
memaksa dalam fikiran orang lain, maka sudah masuk pada motif. Sehingga dalam berfilsafat
profesional itu adalah belajar, sehingga seorang yang proofesional dalam
mempelajari filsafat adalah yang mampu belajar pada para filususf, mempelajari
apa yang telah mereka bangun, dan tolok ukur adalah fikiran para filusuf
berdasar prinsip-prinsip dasar yang sudah difikirkan sejak dulu dan sudah
ditemuka para filusuf, misal sifat dunia ada yang tetap dan ada yang berubah
bernteraksi satu dengan yang lain. Misal aku menyebut diriku yang bersifat
tetap tidak bisa memastikan 1000 pangkat 1000.
Permasalahan selanjutnya, dalam menasihati seorang ditinjau dari
sisi mana seorang menasihati. Seorang menasihati temannya kalau ditinjau dari
temannya maka temannya pun juga ingin menasihati. Sehingga yang perlu di
perhatikan adalah spiritualitas, kembali pada niat dan doa yangmana Allah Yang
Maha Penyayang tidak ada batasnya dengan manusia, mintalah. Memang harus tahu
aturan dan batasan dalam berfikir, sehingga ketika terlalu masuk pada ranah
yang bukan haknya, Kalau perlu minta maaf atas kelancangan berfikir. Sehingga cara
yang bisa digunakan dalam menasihati adalah dengan cara memberi kondisi,
memberi suasana. Semisal Bapak Marsigit yang ketika ke Jepang bertemu orang
pakistan, yang mengikuti program JICA 3,5 bulan belajar di Jepang. Maka cara
menasihati beliau adalah dengan cara Bapak Marsigit sebagai orang tua
mengondisikan memberi masukan-masukan. Sehingga tercipta penerimaan dari pihak
obyek yang di nasihati. Atau cerita bapak Marsigit ketika S2 beliau memulai
mengenalkan diri bahwa beliau seorang Indonesia, tidak minum alkohol dan tidak
makan babi. Sehingga orang-orang di sekitar yang notabene adat dan kebiasaan
nya minum-minum, makan babi, pesta justru menghormati bahkan dibuatkan tempat
sholat khusus. Selain dengan kata-kata dalam memberi suasana maka juga di dukung
dengan teladan nayata. Misal contoh bapak marsigit, menghadirkan langsung
putra-putranya agar langsung mengikuti acara ketika berangkat atau pulang dari
umroh sehingga langsung tahu apa yang dilakukan orang tua, bukan Cuma cerita
dan teori.
Fikiran sampai ranah yang tidak bisa digunakan karena terbatas, semisal
memikirkan Tuhan maka yang perlu di tanamkan adalah fikiran digunakan untuk
menjalankan syariat. Sehingga ketika dihadapkan dengan syariat maka yasudah,
apa yang menjadi perintah dan larangan maka seorang tinggal melaksanakan saja.
Karena naif mencari tuhan hanya lewat fikiran. Jika memikirkan pada haji saja
misalnya, di masjid nabawi siapa yang sholat disana lebih banyak 500x lipat
dari masjid masjid di tempat lain. Jika lewat fikiran semata maka tidak akan
bisa difikirkan. Tidak sampai.
Pelajaran yang sangat berharga adalah hidup itu harus punya
cita-cita, cita-cita yang paling tinggi adalah yang disesuaikan dengan
sifat-sifat ajaran Allah subhanahuwata’ala. Jika sudah punya cita-cita seorang
harus berikhtiar semaksimal mungkin, tapi tidak boleh dengan cara yang
merugikan orang lain. Kalau sudah sampai pada hasil maka tercapai atau idak
tercapai itu adalah ketentuan.
Pada prinsipnya manusia harus berada dalam kerangka kekuasaan
Allah, jika tidak maka ia akan kebingungan akan rentan, misal rumah kita yang
sebenar-benarnya adalah rumah di surga, rumah kita yang saat ini kita hanya
main-main, sehingga yang menjadi tujuan adalah bagaimana seorang bisa kembali
ke rumah yang sebenar-benarnya. Potensi negatif atau godaan setan akan sangat
mudah menghinggapi, semisal kurang sabar, sombong, malas dan hal negatif
lainnya. Sehingga perlu di charge lagi spiritualnya.
0 komentar:
Posting Komentar