REFLEKSI 3 (kuliah
14 Maret 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi
Menghadapi Kegagalan
Bermula dari sebuah pertanyaan apa sebenarnya makna gagal yang sebenar-benar gagal? Orang yang gagal adalah dia
yang kehilangan iman, imannya menurun. Diturunkan lagi adalah tergoda iman.
Perlu di ketahui bahwa Iman itu di langit dan godaan itu di bumi. Kegagalan di
dunia dapat diartikan tidak terwujudnya rencana. Awalnya seorang merencanakan
akan kuliah di ruang A tapi karena ketiduran maka ia telah gagal pada hari itu,
seorang yang ingin bertemu dengan A karena ada kegiatan lain maka ia telah
gagal bertemu. Semua yang ada di langit itu berstruktur berhirarki, sehingga
ketika seorang yang gagal masuk kelas maka semua yang menjadi karakter yang
berkaitan dengan dirinya gagal. Pak guru yang gagal masuk kelas maka para siswa
pun juga telah gagal bertemu pak guru.
Gagal dalam arti sempit adalah kasus. Siswa gagal ujian, maka
pemerintah juga yang menjadi struktur memikirkan ujian nasional pun juga gagal,
ujian nasional semua berfikir pada titik itu. Sehingga itu kasus. Maka di dunia
ini kegagalan yang sebenar-benar gagal itu tidak ada, gagal yang sebenarnya
adalah ketika hilang iman dan turunannya dari itu tergoda iman.
Para ahli ternyata telah merumuskan bahwa struktur berhirarki agar
lebih mudah maka di reduksi, semisal ada seorang menyelenggarakan acara berbagi,
jika acara berhasil dilaksanakan maka itu sebenarnya kasus, keatasnya atau ke
langitnya belum tentu berhasil bisa saja gagal, yakni riya’ dan sikap negatif
yang lainnya. Orang yang gagal hidupnya yang masuk neraka. Sehingga apa yang
gagal itu adalah hasil reduksi dari apa yang sebenarnya sangat besar. Sehingga
di dunia ini kegagalan adalah relatif. Sehingga dalam menghadapi atau
merencanakan di dunia jangan perlu di buat sikap-sikap antisipatif agar
kegagalan bisa di minimalisir dengan keberhasilan.
Penjelasan selanjutnya adalah jawaban pertanyaan berkaitan Karma; Manusia bisa dilihat dari manapun disebut bersifat
multifaset dapat dipandang dari sisi manapun, padahal pandangan itu banyak yang
bertentangan satu dengan yang lain, maka sebagaimana kata Imam Syafii bahwa
membuat semua orang ridho terhadap suatu amalan seseorang itu mustahil. Jika
digambarkan seorang yang berada di jogja jejak kakinya juga hanya ada di jogja
saja. Lintasannya akan muter lingkaran itu saja. Manusia hidup juga seperti
lintasan, seperti lingkaran yakni seorang perlu berproses dalam mencapai
tujuan, namun yang menjadi fenomena saat ini adalah seorang cenderung instan,
ingin lurus langsung mendapat apa yang diinginkan. Beda dengan yang bersikap
siklik, semisal setiap hari selalu ada matahari terbit, ada matahari terbenam,
mengulang dan berputar. Sehingga seorang ketika berbuat sesuatu dia akan
mendapat akibatnya, maka karma adalah hukum sebab akibat. Sehingga seorang sebenarnya dituntut untuk senantiasa bersyukur
agar menyadari tentang dirinya sendir. Misal seorang lupa memberikan tugas atau
tidak berangkat maka dengan bersyukur ia akan sadar peringatan otomatis bahwa
dia telah berumur dan instrospeksi diri.
Peran individu dalam kehidupan; Peran universal merupakan jejaring
sistemik, masuk dalam ranah ide, dan gagasan adapun fakultas adalah kemampuan.
Sehingga seorang yang kuliah sejatinya sedang mencari atau datangi adalah ide
dan gagasan dari para dosen para pakar ide. Sehingga sosial, bermasyarakat itu
adalah pikiranmu, yang kemudian di tuangkan atau di kenali dengan sifat atau
akhlak. Misal sopan santun, merupakan buah dari fikiran.
Sungguh-sungguh itu formal, semisal seorang menggunakan seragam
yang menyelisihi yang lain maka kadang di katakan tidak sungguh-sungguh dalam
memahami perintah atau aturan. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam apa yang
sedang di kerjakan maka akan mencapai apa yang direncanakan, semisal teman
bapak Marsigit yang suka pergi bermain tatkala yang lain sedang sibuk
menyiapkan kelulusan sehingga dia yang tidak sungguh-sungguh akhirnya gagal
dalam program master.
Apa perbedaan cita-cita dan angan-angan? Perbedaan cita-cita dan
angan-angan adalah bahwa cita-cita berstruktur lebih terukur dan lebih valdi,
beda dengan angan-angan. Sehingga cita-cita pasti angan-angan namun angan-angan
belum tentu cita-cita. Dan logika hanya ada di fikiran saja.
0 komentar:
Posting Komentar