Selasa, 20 Juni 2017

Menghadapi Kegagalan

REFLEKSI 3 (kuliah 14 Maret 2017)
Oleh : Muhammad Mufti Hanafi
Menghadapi Kegagalan

Bermula dari sebuah pertanyaan apa sebenarnya makna gagal yang sebenar-benar gagal? Orang yang gagal adalah dia yang kehilangan iman, imannya menurun. Diturunkan lagi adalah tergoda iman. Perlu di ketahui bahwa Iman itu di langit dan godaan itu di bumi. Kegagalan di dunia dapat diartikan tidak terwujudnya rencana. Awalnya seorang merencanakan akan kuliah di ruang A tapi karena ketiduran maka ia telah gagal pada hari itu, seorang yang ingin bertemu dengan A karena ada kegiatan lain maka ia telah gagal bertemu. Semua yang ada di langit itu berstruktur berhirarki, sehingga ketika seorang yang gagal masuk kelas maka semua yang menjadi karakter yang berkaitan dengan dirinya gagal. Pak guru yang gagal masuk kelas maka para siswa pun juga telah gagal bertemu pak guru.

Gagal dalam arti sempit adalah kasus. Siswa gagal ujian, maka pemerintah juga yang menjadi struktur memikirkan ujian nasional pun juga gagal, ujian nasional semua berfikir pada titik itu. Sehingga itu kasus. Maka di dunia ini kegagalan yang sebenar-benar gagal itu tidak ada, gagal yang sebenarnya adalah ketika hilang iman dan turunannya dari itu tergoda iman.

Para ahli ternyata telah merumuskan bahwa struktur berhirarki agar lebih mudah maka di reduksi, semisal ada seorang menyelenggarakan acara berbagi, jika acara berhasil dilaksanakan maka itu sebenarnya kasus, keatasnya atau ke langitnya belum tentu berhasil bisa saja gagal, yakni riya’ dan sikap negatif yang lainnya. Orang yang gagal hidupnya yang masuk neraka. Sehingga apa yang gagal itu adalah hasil reduksi dari apa yang sebenarnya sangat besar. Sehingga di dunia ini kegagalan adalah relatif. Sehingga dalam menghadapi atau merencanakan di dunia jangan perlu di buat sikap-sikap antisipatif agar kegagalan bisa di minimalisir dengan keberhasilan.

Penjelasan selanjutnya adalah jawaban pertanyaan berkaitan Karma; Manusia bisa dilihat dari manapun disebut bersifat multifaset dapat dipandang dari sisi manapun, padahal pandangan itu banyak yang bertentangan satu dengan yang lain, maka sebagaimana kata Imam Syafii bahwa membuat semua orang ridho terhadap suatu amalan seseorang itu mustahil. Jika digambarkan seorang yang berada di jogja jejak kakinya juga hanya ada di jogja saja. Lintasannya akan muter lingkaran itu saja. Manusia hidup juga seperti lintasan, seperti lingkaran yakni seorang perlu berproses dalam mencapai tujuan, namun yang menjadi fenomena saat ini adalah seorang cenderung instan, ingin lurus langsung mendapat apa yang diinginkan. Beda dengan yang bersikap siklik, semisal setiap hari selalu ada matahari terbit, ada matahari terbenam, mengulang dan berputar. Sehingga seorang ketika berbuat sesuatu dia akan mendapat akibatnya, maka karma adalah hukum sebab akibat. Sehingga seorang sebenarnya dituntut untuk senantiasa bersyukur agar menyadari tentang dirinya sendir. Misal seorang lupa memberikan tugas atau tidak berangkat maka dengan bersyukur ia akan sadar peringatan otomatis bahwa dia telah berumur dan instrospeksi diri.
                         
Peran individu dalam kehidupan; Peran universal merupakan jejaring sistemik, masuk dalam ranah ide, dan gagasan adapun fakultas adalah kemampuan. Sehingga seorang yang kuliah sejatinya sedang mencari atau datangi adalah ide dan gagasan dari para dosen para pakar ide. Sehingga sosial, bermasyarakat itu adalah pikiranmu, yang kemudian di tuangkan atau di kenali dengan sifat atau akhlak. Misal sopan santun, merupakan buah dari fikiran.

Sungguh-sungguh itu formal, semisal seorang menggunakan seragam yang menyelisihi yang lain maka kadang di katakan tidak sungguh-sungguh dalam memahami perintah atau aturan. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam apa yang sedang di kerjakan maka akan mencapai apa yang direncanakan, semisal teman bapak Marsigit yang suka pergi bermain tatkala yang lain sedang sibuk menyiapkan kelulusan sehingga dia yang tidak sungguh-sungguh akhirnya gagal dalam program master.


Apa perbedaan cita-cita dan angan-angan? Perbedaan cita-cita dan angan-angan adalah bahwa cita-cita berstruktur lebih terukur dan lebih valdi, beda dengan angan-angan. Sehingga cita-cita pasti angan-angan namun angan-angan belum tentu cita-cita. Dan logika hanya ada di fikiran saja. 

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika

Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika: Jawaban dari ujian Soal-soal Filsafat Pendidikan Matematika 1.       Ontologi Matematika...